Tak Ada TV Bukan Berarti Tak Mampu Beli

tak mampu beli televisiTak ada TV bukan berarti tak mampu beli (Tunsa) – Era seperti sekarang ini televisi bukan menjadi salah satu barang mewah lagi. Sama seperti handphone yang hampir setiap orang di negeri ini sudah mengenalnya. Tidak seperti 10 tahun lalu. Tidak hanya itu, teknologi yang katanya mutakhir juga sudah banyak kita jumpai di Indonesia.

Oleh karena televisi dan sejenisnya sudah menjadi barang umum di masyarakat kita, saya berpikir bahwa setiap orang pasti akan mempunyai televisi di rumah-rumahnya. Tentu saja bukan hanya saya yang beranggapan seperti itu, hampir semua tetanggaku juga berpikiran seperti itu. Dan nyatanya memang benar, banyak rumah-rumah, terutama yang ada anak-anak kecilnya bisa dipastikan ada kotak ajaib bernama televisi.

Hal itulah yang menyebabkan pola pikir sebagian masyarakat secara tidak sadar akan kurang sreg jika di rumahnya tidak punya televisi. Dari sebagian besar yang beranggapan begitu ada sebagian masyarakat kecil yang berpikir sebaliknya. Bahkan mereka yang minoritas tidak mempunyai televisi di rumahnya. Termasuk kami, sekeluarga.

Di rumah saya (rumah ibu saya, tepatnya) ada televisi yang masih aktif (bisa ditonton). Jujur, keluarga kami memang bukan termasuk masyarakat minoritas yang sudah saya jelaskan di atas. Terutama saya (7 tahun yang lalu) dan adik-adik, kami semua penggemar acara televisi. Sepertinya sehari saja tidak menyalakan tv rasanya hambar, hehe. Hingga mulai kerja pun rasanya tidak bisa hidup tanpa tivi, lebaynya begitu kurang lebih.

Namun pola pikirku berubah ketika setelah menikah setahun silam. Bukan, bukan karena di rumah istri saya tidak ada televisi, tapi kaget karena meskipun banyak anak-anak kecil (keponakan) televisi yang dipunyai tidak pernah dinyalakan. Mulai saat itu saya hampir tidak pernah nonton tv lagi. Hingga berada di Denpasar sekarang pun kami tidak mempunyai televisi, karena sudah tidak suka acara tv yang isinya banyak hal-hal negatifnya. Yah, meski demikian sambil mencuri waktu jika ada acara bagus sering mengintip tv via streaming, hehe.

Intinya bahwa tidak semua orang itu suka dan punya televisi. Dan itu wajar, sangat wajar. Beberapa teman saya ketika berkunjung ke rumah keheranan karena kami tidak punya televisi. Mereka bilang ke istri saya, “Terus kalau ditinggal kerja suami ngapain?”

“Saya tidak suka televisi, kalau pas ditinggal suami ya paling buka netbook dan mainan flanel, hehe”, jawab istri saya.

Mereka terkejut heran saat istri saya melanjutkan pembicaraannya bahwa di rumahnya Pekalongan bahkan tidak pernah menyalakan televisi, padahal banyak anak-anak kecilnya. Ya, mereka heran karena anak-anak mereka setiap hari berebut remote control untuk mengganti chanel televisi kesukaan.

Kami memang tidak punya tv, tapi bukan berarti tak mampu beli. Bagi kami lebih baik membeli laptop baru daripada beli tv baru, haha. Begitulah keluarga yang sedang merintis jualan secara online ^^

10 responses to “Tak Ada TV Bukan Berarti Tak Mampu Beli

  1. Saya suka nonton TV, mas Tunsa. Dari jam 6 sampai jam 9 pagi. bukan gosip.. bukan.. tapi acara dakwahnya mamah dede lalu lanjut ke trans tv & Tv 7 yang berisi informasi umum dan Islami. setelah itu tak minat lagi sebelum jam 9 malam.

  2. Meskipun tanpa televisi bukan berarti ketinggalan informasi. Padahal dulu, televisi menjadi rujukan utama informasi, tapi sekarang sepertinya televisi beralih fungsi menjadi hiburan-dan hiburan bahkan sangat tidak mendidik.
    Sekarang, informasi bisa didapat dari mana saja tanpa bergantung dari televisi

Komen

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s