Seputar Bulan Sya’ban

seputar bulan syaban

Alhamdulillah masih diberi kesehatan untuk menulis lagi. Ijinkan kali ini saya ingin mengutarakan isi hati tentang bulan syaban.

Hari jumat seluruh umat muslim di dunia melakukan sholat jumat di masjid-masjid kaum muslimin, termasuk saya😀 Tadi siang alhamdulillah saya sholat pada salah satu masjid di Denpasar, Musholla Mandala Darussalam, musholla yang paling dekat dengan tempat tinggalku. Meskipun kecil bentuknya alhamdulillah masjid ini selalu banyak jamaahnya, terutama sholat jumat, hehe.

Oke, bukan masjid yang akan saya bicarakan, bukan pula sholat jumat yang telah dilaksanakan, tapi tentang isi khotbah yang sudah disampaikan. Tema khotbah jumat hari ini adalah tentang bulan syaban dan keutamaannya. Tema tersebut mengingatkan pada saya tentang broadcast bbm, isinya kurang lebih sama seperti yang disampaikan sang khotib. Namun, yang membuat saya ingin menyampaikannya adalah karena hadits-hadits yang disampaikan tersebut berasal dari hadits dhoif bahkan hadits lemah, astaghfirullah.

Pertama, tentang doa menyambut bulan rajab dan syaban

اَللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي رَجَبَ وَشَعْبَانَ وَبَلِّغْنَا رَمَضَانَ

Doa tersebut diambil dari hadits yang terdapat dalam musnad Imam Ahmad yang berbunyi:

“Abdullah menyampaikan kepada kami, Ubaidullah bin Umar menyampaikan kepada kami, dari Zaidah bin Abi al-Raqqad, dari Ziyad al-Numairi, dari Anas bin Malik berkata: Apabila masuk bulan Rajab adalah Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam membaca:

اَللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي رَجَبَ وَشَعْبَانَ وَبَلِّغْنَا رَمَضَانَ

Ya Allah berkahilah kami pada bulan Rajab dan Sya’ban dan sampaikan kami kepada Ramadhan.“Kemudian beliau berkata, “Pada malam jumatnya ada kemuliaan, dan siangnya ada keagungan”

Dikatakan dhoif karena ada dua perawi yang bernama Zaidah bin Abi al-Raqqad dan Ziyad bin Abdullah Al-Numairi al-Bashri. Kedua perawi hadits tersebut dikatakan dhoif oleh banyak ulama masyhur seperti Al Bukhodi, Imam AdzDzahabi, Abu Dawud, An Nasai, AdDaruqutni, Ibnu Hajar dan yang lainnya. Sehingga doa tersebut tidak boleh disandarkan atas nama rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam.

Kesimpulan:

Tidak boleh meyakini bahwa doa tersebut berasal dari Rasulullah dan penuh keutamaan apalagi menganggap bahwa amalan tersebut merupakan amalan istimewa di bulan tertentu. Namun apabila kita berdoa mengharap keberkahan kepada Allah pada bulan rajab dan syaban agar disampaikan pada bulan Ramadhan maka tidak mengapa selama tidak mengkhususkannya, insya Allah.

Kedua, puasa sunnah 3 hari pada awal, pertengahan, dan akhir bulan syaban

Khotib membawakan hadits tentang puasa tiga hari di awal bulan syaban, tiga hari pada pertengahan, dan tiga hari diakhir syaban. Perkataan tadi tanpa diberitahukan riwayatnya siapa dan bagaimana derajat haditsnya. Padahal tidak ada hadits shohih yang mengkhususkan puasa pada bulan syaban.

Adapun Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam banyak berpuasa pada bulan syaban itu berdasarkan hadits shohih yang diriwayatkan dari Imam Bukhori dan Imam Muslim:

Dari Aisyah Radhiyallahu’anha berkata: “Aku tidak pernah melihat Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam melakukan puasa satu bulan penuh kecuali puasa bulan Ramadhan dan aku tidak pernah melihat beliau lebih banyak berpuasa sunah melebihi (puasa sunah) di bulan Sya’ban.” (HR. Bukhari no. 1969 dan Muslim no. 1156)

Perlu dibedakan, banyak berpuasa pada bulan syaban itu berbeda dengan mengkhususkan hari-hari untuk puasa pada bulan syaban. Sebagaimana kita ketahui puasa sunnah ada banyak, ada puasa senin-kamis, puasa ayamul bidh (puasa sunnah 3 hari pertengahan bulan setiap bulannya), maupun puasa dawud (sehari puasa sehari berbuka).

Memperbanyak puasa sunnah di bulan Syaban itu sunnah, sedangkan menetapkan puasa sunnah khusus di bulan syaban itu salah, semoga bisa dipahami😀 Demikian juga puasa pada 3 hari terakhir bulan syaban, artinya 3 hari menjelang ramadhan juga tidak diperbolehkan kecuali yang masuk dalam hadits berikut:

“Dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Janganlah kalian mendahului puasa Ramadhan satu hari atau dua hari, kecuali puasa yang biasa dilakukan oleh seseorang, maka silahkan ia melakukan puasa tersebut!” (H.R.Abu Dawud)

***

Masih banyak lagi hadits-hadits lain yang disampaikan tanpa diketahui sanad dan kedudukan haditsnya berkaitan seputar bulan syaban. Dalam ilmu hadits, kita umat muslim tidak diperbolehkan beribadah atas dasar hadits yang dhoif dan palsu. Kita menyampaikan hadits tapi palsu artinya kita merekomendasikan sesuatu pada orang lain dengan dalil dari Rasulullah padahal itu bukan. Itu sama saja berdusta atas nama Rasulullah.

Saya berharap semua orang yang mendengar suatu dalil, agar lebih jeli memilah antara hadits dhoif dan hadits shohih. Jika penyampai hadits tidak menyebutkan kedudukan hadits (shahih atau dhoif) maka kita tanyakan pada ustadz yang lebih tahu. Satu lagi, jika kita mendapatkan broadcast yang berhubungan dengan agama, jangan langsung diforward, cek dahulu kebenarannya. Seharusnya semua broadcast harus dicek dulu kebenarannya, apalagi yang berkaitan dengan agama. Kalau benar sih nggak masalah, tapi kalo salah itu yang menjadikan gelisah.

Komen

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s